Riset CAS: Fermentasi Bakteri Bisa Mengubah Sulur Ubi Jalar Menjadi Pakan, tetapi Efeknya Tidak Seragam

Sulur ubi jalar tidak otomatis cocok diberikan langsung ke ternak: kadar air yang tinggi membuatnya cepat rusak, dan riset terbaru di China menunjukkan fermentasi bakteri dapat memperpanjang simpan serta meningkatkan efisiensi pakan pada skala tertentu, namun belum bisa digeneralisasi ke semua peternakan.

Nama reporter: menunggu pengisian

Sulur dan daun ubi jalar sebenarnya bukan bahan yang miskin nutrisi. Masalahnya justru terletak pada sifatnya yang mudah rusak setelah panen. Karena kadar airnya tinggi, biomassa ini cepat mengalami pembusukan, perubahan mikroba, dan penurunan mutu jika tidak segera ditangani. Di sinilah fermentasi menjadi penting: bukan sekadar “mengawetkan”, melainkan menstabilkan bahan, menekan pertumbuhan mikroba yang tidak diinginkan, dan mengubah sebagian karakter fisik maupun kimianya agar lebih layak dipakai sebagai pakan.

Itu sebabnya temuan terbaru dari tim Chinese Academy of Sciences (CAS) menarik untuk dibaca dengan hati-hati. Peneliti dari Institute of Subtropical Agriculture bersama Institute of Microbiology melaporkan bahwa fermentasi sulur ubi jalar dengan campuran bakteri asam laktat dapat memperbaiki penyimpanan dan karakter nutrisinya. Dalam uji pakan selama delapan pekan pada 32 ekor babi penggemukan ras Ningxiang, kelompok yang menerima ransum dengan 4 persen sulur ubi jalar terfermentasi mencatat rasio konversi pakan 4,21, turun dari 4,98 pada kelompok kontrol. Artinya, pada kondisi percobaan itu, kebutuhan pakan per satuan kenaikan bobot turun sekitar 15 persen.


Bukan limbah tak berguna, tetapi juga bukan bahan yang bisa langsung diberikan


Pertanyaan dasarnya sederhana: jika sulur ubi jalar cukup bergizi, mengapa sering terbuang? Jawabannya bukan semata karena petani atau peternak mengabaikannya. Biomassa segar seperti ini sulit disimpan, volumenya besar, kadar airnya tinggi, dan kualitasnya cepat berubah setelah dipanen. Dalam praktik lapangan, bahan seperti itu tidak mudah dipindahkan, tidak tahan disimpan lama, dan mutunya bisa turun sebelum sempat dimanfaatkan.

Karena itu, masalah utamanya adalah logistik dan stabilitas, bukan hanya kandungan nutrisi di atas kertas. Pakan yang baik bukan sekadar kaya protein atau serat, tetapi juga harus konsisten, aman, dan bisa dipakai dalam formulasi ransum tanpa membuat performa ternak menjadi tidak menentu. Di banyak sistem budidaya, hambatan seperti inilah yang membuat hasil samping pertanian sering berakhir sebagai bahan yang kurang termanfaatkan.


Apa yang sebenarnya dilakukan tim peneliti CAS


CAS dan Institute of Subtropical Agriculture memublikasikan pengenalan riset ini pada 30 September 2026. Penelitian tersebut juga telah terbit di Chemical Engineering Journal pada akhir September 2026 dengan judul tentang karakterisasi multi-omics fermentasi sulur ubi jalar yang diinokulasi bakteri asam laktat untuk valorizasi biomassa.

Dalam eksperimen fermentasi, peneliti menggunakan dua spesies bakteri, yakni Lactiplantibacillus plantarum dan Pediococcus pentosaceus, lalu membandingkannya dengan fermentasi alami selama delapan minggu. Sampel dianalisis pada minggu ke-2, ke-4, ke-6, dan ke-8. Menurut ringkasan hasil yang dipublikasikan lembaga riset, inokulasi ini menurunkan pH dan akumulasi etanol secara konsisten, meningkatkan kadar asam laktat dan protein kasar pada tahap tertentu, serta menurunkan serat kasar pada fase akhir fermentasi. Pengamatan mikroskopis juga menunjukkan struktur jaringan tanaman lebih terurai, yang dapat membantu pelepasan nutrien.

Dengan kata lain, fermentasi di sini bukan proses “ajaib” yang mengubah bahan buruk menjadi bahan sempurna. Fungsinya lebih realistis: menstabilkan biomassa basah, membentuk lingkungan fermentasi yang lebih terkendali, dan menggeser komunitas mikroba ke arah yang lebih diinginkan.


Hasil pada babi: yang membaik adalah efisiensi pakan, bukan semua indikator


Bagian yang paling mudah disalahpahami justru ada pada uji pemberian pakan. Tim peneliti menguji 32 ekor babi Ningxiang fase penggemukan selama delapan minggu, dengan empat kelompok ransum yang mengandung 0 persen, 4 persen, 8 persen, atau 12 persen sulur ubi jalar terfermentasi. Hasil yang paling menonjol muncul pada kelompok 4 persen, yakni penurunan rasio konversi pakan dari 4,98 menjadi 4,21.

Namun pembacaan yang tepat harus berhenti di situ: hasil tersebut tidak berarti semua peternakan babi dapat langsung menghemat 15 persen pakan. Angka itu berasal dari satu kelompok perlakuan, pada satu ras lokal tertentu, dalam durasi delapan minggu, dan dengan formulasi ransum yang spesifik. Peneliti juga melaporkan bahwa bobot badan akhir, pertambahan bobot harian rata-rata, dan konsumsi pakan harian rata-rata tidak berbeda signifikan antarkelompok. Pada tingkat penambahan 8 persen dan 12 persen, keunggulan keseluruhan yang sama tidak muncul secara signifikan.

Ini penting karena banyak riset pakan alternatif gagal ketika diterjemahkan terlalu cepat ke skala komersial. Menurunnya rasio konversi pakan berarti bahan itu berpotensi membantu efisiensi, tetapi tidak otomatis berarti pertumbuhan lebih tinggi, biaya pasti lebih rendah, atau hasil yang seragam di semua kondisi kandang.


Mengapa fermentasi relevan dalam gagasan ekonomi sirkular


Nilai strategis riset ini terletak pada upaya mengubah hasil samping pertanian yang mudah rusak menjadi sumber daya yang lebih stabil. Dalam kerangka pertanian sirkular, tantangannya bukan hanya menemukan biomassa baru, tetapi memastikan biomassa itu bisa disimpan, dipindahkan, dan dipakai secara konsisten. Sulur ubi jalar cocok menjadi contoh karena ketersediaannya musiman, melimpah di wilayah sentra produksi, tetapi sulit dimanfaatkan tanpa pengolahan.

Fermentasi dengan bakteri asam laktat sudah lama dikenal dalam pengawetan hijauan atau silase. Sejumlah studi sebelumnya juga menunjukkan bahwa inokulan mikroba dapat membantu menurunkan pH dan memperbaiki stabilitas aerob pada bahan pakan berbasis sulur ubi jalar. Riset terbaru dari CAS menambahkan lapisan bukti yang lebih rinci karena tidak hanya melihat mutu fermentasi, tetapi juga perubahan komunitas mikroba, metabolit, dan respons hewan uji. Di sinilah letak kontribusinya: bukan klaim terobosan besar, melainkan penjelasan yang lebih utuh tentang mengapa sebagian bahan samping pertanian perlu diproses dulu sebelum masuk ke rantai pakan.


Apa yang sudah berubah, dan apa yang masih belum terbukti


Yang benar-benar berubah dari riset ini adalah cara melihat sulur ubi jalar: bukan sekadar sisa panen yang cepat busuk, tetapi biomassa yang dapat ditingkatkan nilainya melalui fermentasi terarah. Penelitian ini memberi dasar eksperimental bahwa pengawetan dan pemanfaatan sebagai pakan bisa ditingkatkan, setidaknya pada kondisi yang diuji.

Namun masih banyak hal yang belum terbukti. Uji dilakukan pada jumlah hewan yang terbatas, pada satu ras babi lokal, dan belum cukup untuk menyimpulkan dampak ekonominya pada peternakan komersial yang berbeda skala. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk melihat kecernaan nutrien, kestabilan hasil di musim dan bahan baku yang berbeda, biaya inokulan, serta bagaimana bahan ini berperforma dalam formula ransum lain.

Bagi pembaca, pelajaran utamanya sederhana: tidak semua limbah pertanian bisa langsung dijadikan pakan hanya karena “sayang kalau dibuang”. Agar benar-benar berguna, bahan itu harus diawetkan, distandarkan, dan dibuktikan kinerjanya. Fermentasi sulur ubi jalar tampak menjanjikan sebagai salah satu jalan ke sana, tetapi sejauh ini bukti terbaiknya masih berbicara tentang potensi yang terukur, bukan solusi instan untuk seluruh industri peternakan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *