A*STAR di Singapura memperkenalkan sistem yang menyatukan radar FMCW dan komunikasi OFDM dalam satu perangkat radio, tetapi hasilnya masih berada pada tahap riset dan belum berarti mobil produksi massal akan segera meninggalkan sistem terpisah.
Mengapa mobil atau robot selama ini cenderung memakai dua sistem nirkabel yang berbeda? Jawabannya sederhana: tugasnya memang berbeda. Satu sistem dipakai untuk merasakan lingkungan sekitar—misalnya mengukur jarak, gerak, atau keberadaan objek—sementara sistem lain dipakai untuk mengirim data. Ketika dua fungsi itu dipaksa berbagi perangkat yang sama, sinyalnya kerap saling mengganggu. Di titik itulah riset baru dari A*STAR, lembaga riset sains dan teknologi Singapura, menjadi menarik: para penelitinya mencoba membuat dua jenis sinyal tersebut bekerja bersama dalam satu perangkat radio-frequency, bukan saling merusak kinerja.
Bukan sekadar merampingkan perangkat, tetapi menyelesaikan konflik sinyal
Pada 6 Oktober 2026, A*STAR Research memperkenalkan riset dari tim Institute of Advanced Intelligence and Computing tentang sistem yang mereka sebut Co-FMCW-OFDM. Gagasannya adalah menggabungkan Frequency-Modulated Continuous Wave atau FMCW—yang lazim dipakai untuk penginderaan—dengan Orthogonal Frequency Division Multiplexing atau OFDM, format sinyal yang umum dipakai untuk komunikasi data, ke dalam perangkat RF front end, antena, dan sumber spektrum yang sama.
Masalahnya, penggabungan seperti ini bukan hal baru dalam wacana akademik. Hambatan utamanya justru teknis: ketika FMCW dan OFDM berjalan bersamaan, keduanya dapat menimbulkan interferensi. Karena itu, nilai utama riset ini bukan sekadar berkata bahwa satu perangkat bisa dipakai untuk dua fungsi, melainkan menawarkan cara agar keduanya terkoordinasi dan tersinkronisasi sehingga komunikasi data dan penginderaan lingkungan bisa saling membantu.
Apa yang sebenarnya dilakukan sistem baru itu
Dalam penjelasan A*STAR dan naskah ilmiahnya, tim peneliti menyusun FMCW dan OFDM agar memiliki durasi simbol yang selaras. Mereka juga mematikan FMCW pada bagian cyclic prefix milik OFDM, yaitu jeda pendek yang dipakai untuk mengurangi gangguan akibat pantulan sinyal. Langkah ini ditujukan untuk menekan interferensi dan mempermudah pemrosesan sinyal.
Yang lebih penting, sinyal FMCW tidak hanya diposisikan sebagai alat “melihat” lingkungan, tetapi juga sebagai referensi untuk memperkirakan kondisi kanal dan membantu membatalkan gangguan sebelum sinyal OFDM didekode. Dengan kata lain, fungsi sensing dipakai sekaligus untuk memperbaiki fungsi komunikasi. Dalam simulasi yang dipaparkan peneliti, pendekatan ini menghasilkan bit-error rate yang lebih rendah dibanding sistem OFDM konvensional, sementara kemampuan sensing tidak hilang dan pada kondisi lingkungan yang berubah cepat justru dapat membaik.
Mengapa ini relevan bagi mobil, robot, dan perangkat nirkabel generasi berikutnya
Makna konsep integrated sensing and communication, atau ISAC, terletak pada efisiensi. Jika sensing dan komunikasi bisa berbagi perangkat keras, antena, dan spektrum, maka secara teori sistem bisa dibuat lebih ringkas, lebih hemat daya, dan lebih efisien dalam penggunaan frekuensi. Untuk kendaraan cerdas, robot industri, atau perangkat otonom lain, itu penting karena semuanya membutuhkan dua hal sekaligus: kesadaran terhadap lingkungan dan koneksi data yang andal.
Namun arti “efisien” di sini tidak boleh dibaca berlebihan. Riset ini belum membuktikan bahwa satu modul baru bisa langsung menggantikan radar kendaraan yang ada di pasar, apalagi seluruh sistem komunikasi di mobil modern. Yang ditawarkan adalah rancangan arsitektur dan hasil simulasi yang menunjukkan jalur teknis menuju integrasi yang lebih masuk akal dibanding pendekatan yang selama ini menimbulkan trade-off terlalu besar.
Perlu dibedakan: tanggal pengenalan lembaga dan jejak publikasi ilmiah
Pemisahan ini penting agar pembaca tidak keliru membaca tahap kematangannya. A*STAR memperkenalkan riset tersebut pada 6 Oktober 2026 melalui artikel penjelasan untuk publik. Sementara itu, naskah dengan judul Coordinated FMCW and OFDM for Integrated Sensing and Communication sudah lebih dulu beredar sebagai preprint di arXiv pada 30 September 2025, dan versi jurnalnya tercantum di IEEE Transactions on Vehicular Technology volume 75 nomor 4 tahun 2026.
Artinya, ini bukan pengumuman produk komersial baru, melainkan hasil riset yang sedang diposisikan dalam percakapan lebih luas mengenai jaringan B5G/6G, sistem otonom, dan desain radio multifungsi. Dari sudut pandang industri, perbedaan antara riset yang dipublikasikan, demonstrasi laboratorium, dan implementasi massal tetap sangat besar.
Apa yang berubah, dan apa yang belum terbukti
Perubahan terpenting dari riset ini adalah cara pandang bahwa sensing dan komunikasi tidak selalu harus berebut ruang. Dalam rancangan A*STAR, sinyal untuk penginderaan justru bisa membantu komunikasi berjalan lebih bersih. Itu membuka kemungkinan baru untuk desain perangkat nirkabel yang lebih terpadu.
Tetapi ada beberapa hal yang belum terbukti. Belum ada dasar untuk menyimpulkan kapan sistem seperti ini akan dipakai luas di mobil produksi massal. Belum ada klaim biaya produksi yang pasti turun, belum ada pengumuman pelanggan komersial, dan belum ada bukti bahwa solusi tersebut sudah siap menggantikan modul radar atau komunikasi yang saat ini dipakai industri otomotif. Untuk sampai ke sana, masih ada tantangan integrasi perangkat keras, validasi di kondisi dunia nyata, kepatuhan spektrum, hingga uji keandalan pada lingkungan yang jauh lebih kompleks daripada simulasi.
Dengan kata lain, riset A*STAR ini tidak menghapus kebutuhan akan dua fungsi utama pada kendaraan dan robot. Yang berubah adalah kemungkinan bahwa di masa depan, dua fungsi itu tidak lagi harus selalu datang dari dua sistem radio yang terpisah.
